Geografi Tanah

ana mau posting laporan ana waktu meneliti tanah di hutan kampus UNLAM Banjarmasin, ame temen-temen juga sih.

sok atuh di baca dulu

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang

Di seluruh Bumi terdapat aneka macam tanah, mulai dari yang paling gersang sampai yang paling subur, warna putih, merah, kelabu, coklat, hitam, kelabu dan lain-lain. Di Indonesia juga terdapat banyak jenis dan macam tanah. Sebagai Negara tropis, di Indonesia memungkinkan untuk bercocok tanam sepanjang tahun. Kesuburan tanaman tidaklah lepas dari tingkat kesuburan tanah tempatnya tumbuh. Kesuburan tanah tiap daera tidaklah sama, utnuk itu diperlukan ilmu khusus ubtuk mengkajinya. Kajian tersebut selain untuk mengetahui tingkat dan persebaran tanah antar daerah, juga untuk menentukan langkah yang tepat untuk diperlakukan terhadap tanah tersebut.

Salah satu ilmu yang mempelajari tentang tanah adalah geografi tanah. Geografi tanah sendiri merupakan ilmu tentang penyebaran jenis-jenis tanah secara geografis dan dikaitkan dengan faktor-faktor pembentuk tanahnya ,dan kajian yang dilakukan saat praktikum geografi tanah adalah mulai dari keadaan di sekitar tanah,lereng, tekstur, struktur, konsistensi,keasaman tanah, kandungan bahan organik, serta kandungan kapur di dalam tanah. Dalam geografi tanah tidaklah hanya memepelajari teori-teori tentang tanah saja, melainkan juga dituntut untuk adanya praktik langsung guna bisa membuktikan langsung tentang jenis-jenis tanah yang ada.

Praktikum geografi tanah bertujuan untuk menganalisa tanah guna mengtahui jenis tanah dari sample yang ada. Dalam menganalisa dibutuhkan ketelitian serta kecermatan sehingga mendapatkan informasi yang akurat. Oleh karena itu, dalam proses analisa dibutuhkan ketelitian dan pemahaman yang baik tentang goeografi tanah. Dengan keakuratan data, diharapkan hasil analisa dari praktikum, tersebut dapat dijadikan sebagai refrensi untuk pengolahan tanah yang tepat.Laporan ini disusun agar memeberikan informasi yang baik dan benar. Dalam penyususnan laporan ini tidak luput dari kekekurangan baik dalam penulisan maupun dalam kelengkapan data. Saran dan kritik yang memebangun dapat dijadikan koreksi bagi penyusun.

  • Tujuan Praktikum Geografi Tanah

Secara umum, tujuan praktikum geografi tanah adalah untuk mengenalkan kepada mahasiswa terhadap faktor pembentuk tanah, sifat tanah, serta klasifikasi tanah. Berikut adalah uraian dari tujuan tersebut :

  1. Mengamati, meneliti, dan menjelaskan aspek geografi fisik khususnya yang berkaitan dengan geografi tanah.
  2. Sebagai tindak lanjut dari pembelajaran tentang tanah yang telah didapatkan selama mata kuliah Geografi Tanah.
  3. Menambah wawasan karena pengamatan dilakukan langsung di lapangan.
  4. Mengetahui proses-proses pedogenesis yang terjadi di lapangan dan mampu membedakan horison tanah atau lapisan pada tanah secara langsung.
  • Manfaat Praktikum Geografi Tanah

Manfaat yang didpatkan dari praktikum ini adalah :

  • Manfaat Akademis :
  1. Mengenal sifat fisik dan kimia tanah secara kualitatif.
  2. Mengerti proses dan perkembangan pedogenesis tanah.
  3. Mengerti penerapan ilmu geografi tanah di lapangan.
  • Manfaat Teoritis :
  1. Sebagai sumber praktikum geografi tanah selanjutnya.
  2. Sebagai bukti telah mengikuti praktikum geografi tanah.

BAB II

DASAR TEORI

2.1 Definisi Tanah

Banyak sekali ahli-ahli bidang geografi yang mempunyai definisi tentang tanah, mulai dari definisi bahwa tanah adalah sebagai alat produksi pertanian sampai tanah yang diartikan sebagai suatu fungsi substrat geologi dengan tenaga luar. Stetbut(dalam M. Isa Darmawijaya, 1997:9). Akan tetapi, definisi yang umum digunakan di Indonesia adalah tanah yang diartikan sebagai akumulasi tubuh tanah alam bebas, menduduki sebgain besar pemukaan planet bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman, dan memeiliki sifat sebagai akibat dari pengaruh iklim dan bahan organic yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu teretentu pula. M. Isa Darmawijaya (1997:9)

Syarat utama terbentuknya tanah adalah tersedianya batuan induk dan adanya faktor yang mempengaruhi bahan asal. M. Isa Darmawijaya (1997:12). Bahan utama terbentuknya tanah adalah batuan induk. Dengan adanya pengaruh dari iklim dan faktor-faktor lain, bahan induk kemudian berkembang menjadi bahan induk dan terus berkembang menjadi tanah hingga tanah mencapai batas akhir perkembangannya yaitu menjadi lempung.

  1. Isa darmawijaya (1997:12) menjelaskan bahwa ada 5 faktor pembentukan tanah, yaitu Iklim, Kehidupan, Bahan Induk, Topigrafi dan Waktu. Namun dari kesemua faktor tersebut, iklimlah yang berpera penting. Iklim bersifat aktif dalam mengubah batuan induk menjadi bahan induk dan kemudian menjadi tanah. Bahan induk yang sama da iklim yang berbeda bisa menciptakan tanahyang berbeda. Begitu juga dengan bahan induk yang berbeda, walaupun dengan iklim yang sama, mampu menciptakan tanah yang berbeda pula. Iklim dan Organisme (kehidupan) berperan sebagai faktor penentu, bahan induk sebagai bahan terbentuknya tanah, dan relief serta waktu sebagai faktor pendorong.
    • Faktor Pembentukan Tanah

Pembentukan tanah sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor ,antara lain :

  • Iklim

Iklim sangat berpengaruh dalam proses pembentukan tanah. Suhu dan curah hujan sangat berpengaruh terhadap intensitas reaksi kimia dan fisika di dalam tanah.Setiap suhu naik 10°C maka kecepatan reaksi menjadi dua kali lipat. Reaksi-reaksi oleh mikroorganisme juga sangat dipengaruhi oleh suhu tanah.

  • Bahan Induk

Tanah adalah perkembangan lebih lanjuut dari hasil pelapukan batuan induk yang disebut dengan bahan induk tanah. pembentukan tanah terjadi setelah bahan induk terlonggok pada suatu tempat. Bahan induk tanah dapat berasal dari batuan induk yang langsung berada dibawahnya (Insitu soil parents materials), namun dapat pula berasal dari batuan induk yang lokasinya jauh dari lokasi keberadaan batuan induk tanah saat ini (transported soil parents materials).

  • Organisme

Pengaruh organisme dalam proses pembentukan tanah tidaklah kecil. Akumulasi bahan organik, siklus unsus hara, dan pembentukan struktur tanah yang stabil sangat dipegnaruhi oleh kegiatan organisme dalam tanah. Disamping itu unsure nitrogen dapat diikat ke dalam tanah dari udara oleh mikroorganisme baik yang hidup sendiri didalam tanah maupun yang bersimbiosis dengan tanaman.Demikian juga dengan vegetasi yang tumbuh di tanah tersebut dapat merupakan penghalang untuk terjadinya erosi sehingga mengurangi jumlah tanah permukaan yang hilang.Kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman juga sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah. Vegetasi hutan membentuk tanah-tanah hutan berwarna merah sedang vegetasi rumput-rumput membentuk tanah berwarna hitam karena banyaknya sisa-sisa bahan organik yang tertinggal dari akar-akar dan sisa rumput.

  • Topografi

Topografi suatu daerah dapat dapat menghambat atau mempercepat pengaruh iklim. Di daerah yang datar atau cekung dimana air tidak mudah hilang dari tanah atau menggenang, pengaruh iklim menjadi tidak jelas dan terbentuklah tanah berwarna kelabu atau banyak mengandung karatan sebagai akibaat genangan air tersebut.

  • Waktu

Tanah merupakan benda alam yang terus menerus berubah sehingga akibat pelapukan dan pencucian yang terus menerus maka tanah-tanah yang semakin tua juga semakin kurus. Mineral yang banyak mengandung unsur hara telah habis mengalami pelapukan sehingga tingal mineral yang sukar lapuk seperti kuarsa.Profil tanah juga semakin berkembang dengan meningkatnya umur.Karena proses pembentukan tanah terus berjalan maka bahan induk tanah berubah berturut-turut menjadi tanah muda (immature atau young soil), tanah dewasa (mature soil), dan tanah tua (old soil).

Kekeringan dan erosi dapat menghambat perkembangan tanah.Dalam periode waktu yang sama (umur yang sama) tanah disuatu tempat mungkin telah berkembang lanjut sedangkan di tempat lain yang beriklim kering atau terus menerus tererosi mungkin tanahnya belum berkembang.Oleh karena itu tua mudanya tanah tidak dapt dinyatakan dari umur tanah tersebut (dalam tahun), tetapi harus didasarkan pada tingkat perkembangna horison yang ada.

  • Bahan Penyusun Komponen Tanah

Bahan penyusun komponen tanah antara lain :

  • Air (20% – 30%)

Air terdapat di dalam tanah karena diserap masa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air atau karena drainase yang kurang baik.

  • Udara (20% – 30%)

Udara dan air mengisi pori-pori tanah dan jumlahnya berubah-ubah dan susunan udara di dalam tanah berbeda dengan susunan udara di atmosfer karena :

  • Kandungan uap air lebih tinggi (kelembaban nisbi/relative humidity mendekati 100%)
  • Kandungan CO2 lebih besar daripada di atmosfer
  • Kandungan O2 lebih kecil daripada di atmosfer (sekitar 10-12 %)
  • Bahan Organik (5%)

Bahan organik terdiri dari bahan organik kasar dan bahan organik halus (humus).Humus merupakan senyawa yang resisten (tidak mudah hancur) berwarna hitam atau coklat dan mempunyai daya menahan air dan unsur hara yang tinggi .Tanah yang banyak mengandung humus / bahan organik adalah tanah lapisan atas atau topsoil.Bahan organik sangat berpengaruh pada sifat-sifat tanah dan dampaknya pada pertumbuhan tanaman, seperti :

  1. Sebagai granulator (memperbaiki struktur tanah)
  2. Sumber unsur hara N,P,S, unsur mikro dll
  3. Menambah kemampuan tanah menahan air
  4. Menambah kemampuan tanah menahan unsur hara
  5. Sumber energi bagi mikroorganisme
  • Bahan Mineral (45%)

Bahan mineral dapat dibedakan menjadi dua ,antara lain :

  • Bahan mineral berdasarkan ukuran (debu ,liat ,pasir ,kerikil < 2mm ,batu)
    • Bahan mineral berdasarkan proses terbentuknya (Mineral Primer : Mineral yang berasal langsung dari batuan yang lapuk ,Mineral Skunder :  Mineral yang terbentuk selama proses pembentukkan tanah berlangsung)

 

 

2.4 Hal-Hal Yang Akan Di Uji

  1. Horizon

Suatu tubuh tanah apabila dipotong tegak lurus akan menampilkan suatu seri lapisan yang disebut sebagai horizon. Dari horizon tersebut apabila diamati mempunyai cirri khusus, baik dari cirri geomorfologi, sifat-sifat biologi, kimia dan fisika yang khas. Urutan susunan dari horizon itulah yang disebut sebagai profil tanah.

Profil tanah di suatu tempat dan tempat lain tidaklah selalu sama. Namun pada umumnya tanah dikatulistiwa paling tebal dan semakin menipis dengan semakin mendekatnya derah tersebut ke daerah kutub. Ini dikaranakan iklim sebagai faktor aktif pembentuk tanah di daerah katulistiwa dan kutub berberda (curah hujan dan penyinaran matahari).

Tiap-tiap lapisan pada horizon tanah mempunyai ciri khas yang berdbeda antara satu lapisan dengan lapisan yang lainnya yaitu ciri yang spsifik dan genetis. Dengan ciri khas pada tiap horizon tersebut maka dibuatlah klasifikasi tentang nama pada lapisan tersebut. Secara garis besar, horizon-horizon tersebut dapat dibedakan menjadi horizon organic (horizon O) dan horizon mineral (horizon A, B, C, dan R).

  • Horizon O
    • Ditemukan terutama pada tanah-tanah hutan yang belum terganggu dan merupakan horizon organik yang terbentuk di atas lapisan mineral
    • O1 : lapisan bentuk asli sisa-sisa tanaman yang masih terlihat
    • O2 : lapisan bentuk asli sisa-sisa tanaman yang tidak terlihat jelas
    • Horizon A
      • Horizon di permukaan tanah yang terdiri dari campuran bahan organik dan bahan mineral.Merupakan horizon eluviasi ( yang mengalami pencucian)
      • A1 : Lapisan bahan mineral campur humus, berwarna gelap
        • A2 : Lapisan dimana terdapat pencucian (eluviasi) maksimum terhadap liat, Fe, Al bahan organik
        • A3 : Lapisan peralihan ke B, lebih menyerupai A
        • Horizon B
          • Horizon iluviasi (penimbunan) dari bahan-bahan yang tercuci di atasnya ( liat, Fe, Al, bahan organik)
          • B1 : Lapisan peralihan A ke B lebih menyerupai B
          • B2 : Lapisan penimbunan (Iluviasi)
          • B3 : Lapisan peralihan ke C, lebih menyerupai B
          • Horizon C
            • Horizon C merupakan lapisan batuan induk yang sedikit terlapuk .
            • Horizon D
              • Horizon D atau R merupakan lapisan batuan keras yang belum terlapuk .
  1. Warna tanah

Warna tanah merupakan ciri tanah yang paling nyata dan paling mudah untuk ditemukan. Meskipun pengaruhnya yang langsung terhadap fungsi tanah hanya sedikit, tetapi seseorang tapi seseorang dapat memperoleh keterangan banyak dari warna tanah, apalagi jika dihubungkan dengan cir-ciri lain. Jadi warna tanah hampir merupaka ukuran yang tak langsung mengenai sifat dan mutu tanah, serta bersifat menggantikan cir-ciri penting lain yang sukar diamti teliti.

Warna tanah merupakan pernyataan jenis dan kadar bahan organic; keadaan drainase dan aersi tanah dalam hubungan dengan hidratasi, oxidasi, dan prosespelindian; tingkat perkembangan tanah; kadar air tanah termasuk pula dalamnya permukaan air tanah; dan atau adanya bahan-bahan tertentu.

Pada umumnya, bahan organic member warna kelam pada tanah, artinya jika tanah asalnya berwarna kuning dan kecoklatan, kandungan bahan organik menyebabkan tanah cenderung berwarna hitam atau kecoklatan. Semakin stabil bahan organik, makin tua warnanya. Sedangkan makjn segar, makin cerah warnanya. Dan humus yang stabil berwarna hitam. M. Isa Darmawijaya (1997:158).

  1. Tekstur Tanah

Tekstur tanah adalah perbandingan relative tiga golongan besar partikel tanah dalm suatu massa tanah, terutama perbandingan antara fraksi-fraksi lempung (clay), debu (slit), dan pasir (sand). Butiran tunggal tanah diberi istilah partikel tanah, dan golongan partikel tanah diberi istilah fraksi tanah.

Tekstur suatu horizon tanah merupakan sifat yang hampir tidak berubah, beralinan dengan struktur dan konsistensi. Memang kadang-kadang didapati perubahan dalam lapisan itu sendiri karena dipindahkannya lapisan permukaan atau berkambangnya lapisan permukaan baru. Pemindahan ini juga dapat disebabkan oleh erosi tanah. Karena sifatnya yang relative tetap untuk jangka waktu tertentu maka tekstur tanah sudah lama menjadi dasar klasifikasi tanah. Istialh populer tanah berat dan tanah ringan yang merupakan pernyataan berat-ringannya penggarapan tanah seolah-olah ditentukan tekstur tanah, karena para petani sudah lama mengetahui bahwa tanah pasir adalah tanah ringan dan tanah lempung adalah tanah berat. Tekstur tanah turut menentukan tata air dalam tanah, berupa kecepatan infiltrasi, penetrasi, dan kemampuan pengikatan air oleh tanah. M. Isa Darmawijaya (1997:163).

Nama kelas tekstur tanah pada umumnya diambil dari fraksi yang sebagian besar dikandung massa tanah tersebut jika campuran partikel lain dapat diabaikan karena sedikitnya, sehingga dikenal klas-klas tekstur tanah:

  1. tanah pasir kasar (coarsed sand)
  2. tanah pasir (sand)
  3. tanah pasir sangat halus (very fine sand)
  4. tanah debu (silt)
  5. tanah lempung (clay)
  6. tanah lempung berat (heavy clay).

Jika tercampur sedikit fraksi lain maka nama-nama kelas tekstur tanah menjadi :

  1. tanah lempung pasiran (sandy clay)
  2. tanah lempung debuan (silt clay).

Pembatasan ketiga fraksi masing-masing tekstur tanah dapat digambarkan dengan jelas dalam Bagan I yang berbentuk segitiga dan disebut trianguler texstur. Titik sudutnya menunjukkan 100% salah satu fraksi, sedang tiap sisi menggambarkan persentase berat masing-masing fraksi mulai 0% sampai 100%. Segetiga ini terbagi atas 12 bidang atau zone yang menunjukkan masing-masing tekstur tanah. Dalam zone 1 dibagi menjadi 2 bagian yaitu heavy clay dan clay

Terdapat 2 cara yang dapat digunakan untung menetapkan tekstur tanah. Cara tersebut adalah :

  1. Cara Kualitatif ( di lapangan )

Di kerjakan di lapangan dengan cara mengambil segumpal tanah (sedimen) sebesar kelereng dengan meremas atau menguli contoh tanah diantara telunjuk dan ibu jari. Jika dalam keadaan kering sukar diremas atau di uli sehingga harus dibasahi terlebih dahulu agar mudah diuli. Ada beberapa ketentuan sebagai berikut.

  1. Bila terasa kasar, tidak dapat dibentuk,partikel pasir yang dominan disebut tanah bertekstur pasir.
  2. Bila terasa halus, licin seperti sabun atau serbuk talk bila kering, dapat dibentuk, tetapi mudah pecah, partikel debu yang dominan, disebut tekstur debu.
  3. Bila dalam keadaan basah melincir, liat dan lekat, mudah sekali dibentuk dan tidak mudah pecah disebut tekstur lempung(clay).
  4. Bila terasa kasar, halus dan liat bersama-sama dalam proporsi yang kurang lebih sama disebut tekstur geluh(loam).
  1. Cara Kuantitatif

Dikerjakan di laboratorium, di kenal sebagai analisa mekanik atau analisis granuler dengan cara pipet atau dengan cara hidrometrik.

Sedangkan untuk menentukan tekstur tanah dengan cara triangular tekstur adalah dengan mencocokkan persentase masing-masing fraksi dengan segitiga tekstur tanah. Langkah mencocokkan dilakukan dengan cara membuat garis pertemuan dalam segitiga tekstur tanah kemudian membuat satu titik temu antasa tiga garis tersebut. Garis dibuat dengan cara menarik sejajar dengan garis segitiga disebelah kanan garis yang kita buat sesuai dengan kandungan masing-masing fraksi tanah.

Tekstur tanah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan konsistensi dan struktur tanah, sehingga tanah pasir selalu lepas-lepas dan berbutir tunggal, sedang tanah lempung selalu sangat teguh dan hampir selalu mampat. Tekstur tanah turut menentukan tata air dalam tanah berupa kecepatan infiltrasi, penetrasi dan kemampuan pengikatan air oleh tanah. Oleh karena itu tekstur tanah perlu dipertimbangkan dalam menentukan cara pengolahan tanah (soil cultivation).

Tekstur tanah merupakan satu-satunya sifat fisik tanah yang tetap dan tidak mudah diubah oleh tangan manusia jika tidak ditambah dari tempat lain. Erosi dapat menyebabkan perubahan tekstur karena terkikisnya tanah lapisan permukaan atau diendapkannya tanah yang terkikis dari tempat lain yang lebih tinggi.

  1. Struktur tanah

Struktur didefinisikan sebagai susunan saling mengikat partikel-partikel tanah. Ikatan partikel tanah itu berwujud sebagai agregat tanah yang membentuk dirinya. Agregat tanah ini dinamakn ped. Gumpalan tanah yang terbentuk sebagai akibat penggarapan tanah., atau yang terbentukkarena akumulasi lokal senyawa-senyawa yang mengikat partikel tanah (konkresi) tidak termasuk apa yang dinamakan agregat tanah.

Pada dasarnya agregat tanah berbentuk remah mempunyai ruang pori antara agregat yang lebih banyak daripada struktur gumpal ataupun pejal, sehingga prembesan airnya lebih cepat dan biasanya lebih subur.

Berdasarkan bentuk dan besarnya, tipe struktur tanah dapat dibagi menjadi tipe lempeng, tiang, gumpal, remah, granuler, berbutir tunggal, dan pejal. M. Isa Darmawijaya (1997:170).

  1. Konsistensi tanah

Konsistensi tanah adalah derajat kohesi dan adhesi di antara partikel-partikel tanah dan ketahanan (resistensi) massa tanah terhadap perubahan bentuk oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang memepengaruhi bentuk tanah. Dalam profil tanah tiap horizon berbeda konsistensinya. Konsistensi ditentukan olehtekstur dan struktur tanah. Pentingnya konsistensi tanah ialah untuk menentukan cara penggarapan tanaha yang efisien dan penetrasi akar tanaman di lapisan tanah bawahan.

Cara menenetukan konkresi tanah d ilapangan adalah dengann cara memijit tanah, dalam berbagai keadaan kandungan air seperti basah, lembab, dan kering diantara ibu jari dan telunjuk. M. Isa Darmawijaya (1997:172).

Konsistensi dipertelakan untuk tiga taraf kelembaban yaitu

basah, lembab, dan kering. Suatu tanah mungkin lengket bila basah,kenyal bila lembab, dan keras bila kering. Istilah istilah yang digunakan untuk mempertelakan konsistensi mencakup :

  • Tanah basah/ tak lekat, agak lekat, lekat, sangat lekat.
  • Tanah lembab/lepas, sanagat gembur, teguh, kerass, dan sangat keras.
  • Tanah kering/lepas, lunak, agak keras.

Perekatan (cementation) juga merupakan tipe konsistensi dan disebakan oleh bahan perekat seperti kalsium karbonat, silika, atau oksida oksida besi dan aluminium. Perekatan itu sedikit diupengaruhi oleh kandungan air. Terekat atau mengeras digunakan untuk mempertelakan perekatan. Tanah yang mengeras itu begitu keras sehingga diperlukan pukulan palu yang keras untuk memecahkan tanah itu dan pada umumnya palu akan berdering sebagai akibat pukulan itu.

Konsistensi tanah menunjukkan kekuatan daya kohesi butir tanah atau daya adhesi butir tanah dengan benda lainnya. Berdasarkan pengamatan di lapangan dan percobaan, perbedaan konsistensi tanah bergantung pada tekstur, kadar bahan organik, kadar dan sifat koloid serta kadar lengas tanah.

Tanah basah :

  • so, symbol utuk yang tidak lekat, tidak ada tanah yang tertinggal.
  • ss, symbol untu agak lekat tanah tertinggal pada salah satu jari
  • s, symbol untuk lekat, tanah tertinggal pada satu jari
  • vs, symbol untuk sangat lekat, sukar untuk melepaskan kedua belah jari

Tanah lembab:

  • I = symbol untuk butir-butir tanah terlepas satu sama lain
  • vf = symbol untuk sangat gembur, dengat sedikit tekanan saja tanah mudah tercerai-berai, bila digenggam mudah menggumpal
  • t = symbol teguh, masa tanah menggumpal, tenaga cukup kuat untuk memecahkan gumpalan
  • h = symbol untuk keras, tanah tahan terhadap tekanan, ,masa tanah dapat dipatahkan
  • vh= symbol untuk sangat keras, tahan terhadap tekanan, ,masa tanah sukar dipatahkan

Tanah kering:

  • I = symbol  lepas, butir-butir tanah terlepas, satu sama lain tidak terikat
  • S = symbol lunak, dengan sedikit tekanan masa tanah mudah bercerai
  • Sh = symbol untuk agak keras, tanah agak tahan terhadap tekanan
  1. pH Tanah

Penenetuan pH tanah dalam klasifikasi dan pemetaan tanah diperlukan selain untuk memprediksi lanjut tidaknya perkembangan tanah juga diperlukan dalm penggunaan tanahnya terutama untuk tanah pertanian.

Pada umumnya tanah yang telah berkembang lanjut dalam dearah iklim basah mempunyai pH tanah rendah. Makin lanjut umur tanah makin asam pula tanahnya. Sebaliknya tanah di daerah kering penguapan menyebabkan tertimbunnya unsure-unsur basa dipermukaan tanah karena besarnya evaporasi dibandingkan dengan presipitasi, sehingga makin lanjut umurnya, maka makin tinggi pHnya. Akan tetapi pada umunya di daerah kering jarang ditemukan tanah yang senantiasa bertiup sebagai akibat dari perubahan iklim yang besar. M. Isa Darmawijaya (1997:175).

  1. Bahan Organik

Hasil fotosintesis merupakan sumber utama bahan organik tanah, yaitu bagian atas tanaman seperti daun, duri, serta sisa tanaman lainnya termasuk rerumputan, gulma, dan limbah pasca panen (jerami, daun kering). Semua sumber bahan organik mengandung air, bahan mineral, dan senyawa organik (Rachman Soetanto, 2005:58). Bahan Organik berasal dari bahan-bahan yang telah lapuk, bahan organik <2% peka terhadap erosi . Senyawa organik dibedakan atas (Rachman Soetanto,2005:58).

kriteria bahan organik

Jika tidak berbuih Kadar bahan organik sedikit atau tidak ada
Jika berbuih banyak Kadar bahan organik banyak
Jika berbuih sedang Kadar bahan organik sedang
Jika berbuih sedikit Kadar bahan organik sedikit
  1. Drainase

Drainase adalah lengkungan atau saluran air di permukaan atau di bawah tanah, baik yang terbentuk secara alami maupun dibuat oleh manusia. Dalam bahasa Indonesia, drainase bisa merujuk pada parit di permukaan tanah ataugorong-gorong di bawah tanah. Drainase berperan penting untuk mengatur suplai air demi pencegahan banjir. Untuk mengukur drainase tanah diklasifikasikan sebagai berikut :

BAB III

PROSEDUR PENGAMATAN

  • Alat dan Bahan untuk Pengamatan

Di dalam pengamatan praktikum digunakan beberapa alat dan bahan ,antara lain :

  • Bor tanah, untuk mengambil lapisan tanah yang akan di uji
  • Buku Catatan
  • Aquades
  • Penggaris atau meteran, untuk mengukur ketebalan tanah
  • Air putih biasa, untuk mengetes drainase
  • PH meter untuk mengetahui kandungan dari tanah yang diuji
  • Tabung Reaksi,Untuk mengetes PH tanah.
  • Pisau, Untuk mengambil tanah yang akan diuji.
  • VIXAL (pembersih keramik/porselen) Untuk mengecek banyak sedikitnya kandungan kapur di sampel tanah.
  • H202 3% Untuk mengecek banyak sedikitnya Bahan Organik di sampel tanah.
  • Munsell soil colour chart
  • Cara Pengamatan
  1. Pengambilan sampel tanah
  • Pakailah bor tanah yang berbentuk ulir untuk mengambil sampel tanah
  • Letakkan sampel tanah yang telah diambil oelh bor ulir secara sejajar.
  • Mulailah meneliti dari sampel yang telah di ambil
  1. Pengukuran ketebalan lapisan tanah
  • Setelah sampel tanah diambil dengan menggunakan bor tanah ulir
  • Ambil penggaris atau meteran
  • Ukur tanah sesuai dengan lapisan yang diambil
  1. Warna Tanah
  • Ambil sampel tanah
  • Amati warna tanah sesuai dengan penglihatan
  • Letakkan sampel tanah pada warna yang paling mendekati (paling mirip) di buku munsell soil color atau diamati secara manual
  • Catat hasil pengamatan
  1. Tekstur Tanah
  • Ambil sampel tanah
  • Beri sedikit air pada sampel tanah tersebut
  • Pilin sampel tanah tersebut dengan telunjuk dan ibu jari
  • Rasakan tingkat kekasaran dari tanah tersebut
  • Catat hasil pengamatan
  1. Struktur Tanah
  • Ambil sampel tanah
  • Perhatikan bentuk susunan dari sampel tersebut
  • Tentukan bentuk dan susunan sampel tanah tersebut sesuai pengamatan
  • Catat struktur tanah yang telah diketahui
  1. Konsistensi Tanah
  • Ambil sampel tanah
  • Beri sedikit air pada sampel tersebut
  • Pilinlah sampel tanah tersebut untuk mengetahui tingkat kelekatan tanah
  • Catat tingkat kelekatan yang telah diketahui
  • Buat gilingan pada sampel tanah
  • Tekan gilingan tersebut dengan jari
  • Tentukan tingkat keliatan dari sampel tanah tersebut
  • Catat hasil pengamatan
  1. Ph Tanah
  • Ambil sampel tanah
  • Masukkan sedikit sampel tanah ke tabung reaksi
  • Berilah air aquades sehingga ketinggiannya dua kali ketinggian tanah (perbandingan 2:1)
  • Kocok tabung reaksi tersebut hingga tanah larut dalam air
  • Celupkan PH stik ke dalam tabung reaksi
  • Bandingkan warna PH stik dengan box PH stik tersebut
  • Catat hasil pengamatan
  1. Bahan Organik
  • Ambil sampel tanah
  • Tetesi sampel tanah dengan H202 %
  • Amati buih, jika banyak berarti kandungan bahan organiknya banyak
  • Catat hasil pengamatan
  1. Kandungan kapur
  • Ambil sampel tanah
  • Tetesi dengan VIXAL
  • Amati buih yang terjadi, jika buih banyak berarti kandungan kapurnya banyak
  • Catat hasil pengamatan
  1. Drainase
  • Tuang air di atas permukaan tanah di sekitar tempat kita mengambil sampel tanah.
  • Amati aliran dari air tersebut.
  • Catat hasil pengamatan

BAB IV

PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil Pengamatan

Pegambilan Sampel tanah (kamis 06 November 2014)

  • Lokasi pengambilan sampel          : Belakang masjid kampus UNLAM Banjarmasin
  1. Ketebalan

Pada penelitian kelompok kami, kami mendapatkan 5 (lima) lapisan hasil dari pengeboran tanah menggunakan bor tanah ulir. Kami tidak menemukan horizon tanah melainkan hanya lapisan-lapisan tanah dikarenakan daerah Banjarmasin Kalimantan Selatan merupakan daerah Rawa sehingga tanah yang ada ini merupakan hasil dari endapan pasang surut. Kami mengurutkan sampel berdasarkan sampel yang terlebih dahulu diambil. Berdasarkan sampel yang kami ambil ketebalan lapisan tanah sebagai berikut:

  • Lapisan 1 memiliki ketebalan 22 cm
  • Lapisan 2 memiliki ketebalan 25 cm
  • Lapisan 3 memiliki ketebalan 23 cm
  • Lapisan 4 memiliki ketebalan 22 cm
  • Lapisan 5 memiliki ketebalan 20 cm

Dari data diatas terdapat ketebalan berbeda pada setiap lapisan, hal ini disebabkan penggunaan alat yang tida tepat , karana pada daerah rawa seharusnya menggunakan bor tanah berbentuk pipa panjang agak tidak merusak lapisan-lapisan tanah yang ada, sedangkan penggunaan bor ulir dapat merusak lapisan tanah yang ada sehingga yang terjadi adalah perbedaan ketebalan pada setiap lapisan.

  1. pH tanah

untuk mengukur pH tanah kami mengambil sampel pada masing masing lapisan tanah, setelah kami uji dengan pH stik dan kami cocokkan dengan kotak indicator warna pH di box pH stik maka data yang kami dapatkan adalah sebagai berikut:

  • lapisan 1, pH = 6
  • lapisan 2, pH = 6
  • lapisan 3, pH = 6
  • lapisan 4, pH = 6
  • lapisan 5, pH = 6

dari data diatas kelompok kami menemukan bahwa pada setiap lapisan dari sampel tanah yang kami ambil bersifat asam (pH<7= asam; pH>7= basa; pH 7= Normal).

  1. Tekstur

Dari lima sampel yang kami ambil tekstur tanah bersifat lekat dan lempung.

  1. Struktur

Struktur tanah yang kami dapat di tempat penelitian yaitu bergumpal

  1. Konsistensi

Pada konsistensi tanah kami hanya menguji lembab dan juga basanya tanah, dari uji sampel kami dapat menemukan bahwa :

  • Konsistensi lapisan 1 memiliki kelembaban t dan pada kondisi basah yaitu
  • Konsistensi lapisan 2 memiliki kelembaban t dan pada kondisi basah yaitu
  • Konsistensi lapisan 3 memiliki kelembaban vf dan pada kondisi basah yaitu
  • Konsistensi lapisan 4 memiliki kelembaban vf dan pada kondisi basah yaitu
  • Konsistensi lapisan 5 memiliki kelembaban vf dan pada kondisi basah yaitu

Dari data tersebut dapat kami simpulkan bahwa sampel yang kami ambil pada saat lembab ada 2 lapisan tanah yaitu lapisan 1 dan lapisan 2 yang bersifat t (teguh) dan ada 3 lapisan yaitu lapisan 1, lapisan 2, lapisan 3 yang bersifat vf (). Dan pada kondisi basah ke lima bersifat vs (sangat lekat, sukar untuk melepaskan kedua belah jari).

  1. Kandungan kapur

Untuk menguji kandungan kapur pada tanah kami mengambil sampel dari masing masing lapisan tanah yang kemudian kami tetesi VIXAL pembersih porselen. Dari kelima sampel yang kami ambil. Tidak ada satupun sampel kami yang mengalami reaksi berupa buih. Maka berdasarkan pengamatan dan uji coba maka kami menyimpulkan bahwa kelima sampel yang kami ambil tidak terdapat kandungan zat kapur didalamnya.

  1. Kandungan bahan organik

Kami mengambil sampel pada masing-masing lapisan, kemudian kami beri tetesan H2O3% untuk menguji kandungan bahan organik pada sampel yang kami ambil. Dari kelima sampel yang kami ambil, kami menemukan bahwa setelah ditetesi H2O2 reaksi yang kami dapatkan, sebagai berikut :

  • Lapisan 1 berbuih banyak
  • Lapisan 2 berbuih sedang
  • Lapisan 3 berbuih sedang
  • Lapisan 4 berbuih sedikit
  • Lapisan 5 tidak berbuih sama sekali

Dari keterangan diatas dapat diketahui bahwa pada lapisan 1 atau lapisan pertama yang kami ambil memiliki kandungan bahan organik yang banyak karna dilihat dari banyaknya buih yang terdapat pada sampel, sedangkan pada lapisan ke-2 dan lapisan ke-3 memiliki buih sedang, kandungan bahan organik  pada lapisan tersebut tidak sebanyak pada lapisan 1 namun masih memiliki kandungan bahan organik. Pada lapisan ke 4 memiliki buih sedikit karena kandungan bahan organik yang mulai sedikit bahkan hamper tidak ada. Pada lapisan ke-5 tidak terdapat sama sekali bahan organik karna tidak ada reaksi buih pada lapisan ke-5 saat kami mengujinya dengan H2O2.

  1. Warna Tanah

Untuk mengamati warna tanah kami mengambil sampel dari masing-masing lapisan untuk kemudian dicocokan di munsell soil colour chart. Setelah kami mencocokan sampel, yang kami dapatkan adalah sebagai berikut :

  • Lapisan 1 = 10yr ; 3/3 ; dark brown
  • Lapisan 2 = 7,5 yr ; 2,5/3 ; very dark brown
  • Lapisan 3 = 10 yr ; 3/2 ; very dark grayish brown
  • Lapisan 4 = 10 yr ; 3/1 ; very dark gray
  • Lapisan 5 = 10 yr ; 2/1 ; black

Dari data tersebut kami menemukan bahwa lapisan tanah yang kami ambil memiliki warna coklat kehitaman seperti pada lapisan 1 dan lapisan 2, sedangkan pada lapisan 3 berwarna kehitaman abu-abu kecoklatan, sedangkan pada lapisan 4 warna tanah adalah abu-abu kehitaman namun lebih gelap warnanya dibandingkan  pada lapisan 2 dan lapisan 3. Sedangkan pada lapisan kelima berwarna hitam.

  1. Drainase

Pada saat kami menguji drainase pada tanah yang kami teliti, kami tidak menguji dari sampel tanah namun kami menguji pada permukaan tanah langsung dimana kami mengambil sampel tanah tersebut. Setelah kami siram dengan air dan kami hitung dengan stopwatch berapa waktu yang di perlukan air untuk meresap keadalam tanah yaitu sekitar 10 detik, maka kami mengambil kesimpulan bahwa drainase masuk kedalam kategori tergenang, Karna daerah yang kami teliti merupakan daerah rawa.

BAB V

PENUTUP

 

5.1 kesimpulam

Dengan adanya praktikum geografi tanah ini mahasiswa dapat mengenal sifat fisik dan kimia tanah secara kualitatif serta Mengerti proses dan perkembangan pedogenesis tanah selain itu jua mengerti penerapan ilmu geografi tanah di lapangan. Praktikum geografi tanah ini juga dapat dijadikan acuan Untuk KKL Geografi Fisik sehingga kami mendapat gambaran awal tentang penelitian pada tanah

.

5.2 Kritik dan Saran

Dalam praktikum ini belum sempurna karena kurang sesuai dengan kaidah-kaidah dan pedoman dalam penyidikan. Seperti contoh, tanah yang diamati bukan tanah yang baru atau mungkin sudah terpengaruh oleh pengaruh dari luar dll. Akan tetapi, dengan begitu kita bisa tahu bagaimana pengamatan yang benar dan bagaimana yang kurang benar.

DAFTAR ACUAN

http://id.wikipedia.org/wiki/Drainase

buku pengantar geografi tanah

http://bisakimia.com/2013/11/09/indikator-asam-basa/

http://www.gerbangpertanian.com/2011/03/mengukur-ph-tanah-dengan-kertas-lakmus.html

http://hepta7.blogspot.com/2012/11/laporan-geografi-tanah.html

http://sidicq.wordpress.com/2012/11/27/laporan-praktikum-geografi-tanah/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s